SALIM Kancil ternyata punya andil mengerek popularitas Pristya Devi Vanti. Namanya kini populer karena tampil sebagai vokalis lagu mengenang Salim Kancil.
Devi sapaan akrab perempuan ini terlahir di Desa/Kecamatan Rowokangkung, Lumajang. Tepatnya 18 Juni 1991. Putri pasangan Sukarman dan Suliati ini awalnya turut prihatin dengan
kejadian Salim Kancil."Saat itu Alie Melon bikin lagu, karena gak sendirian jadi ngajak saya. Sejak itu banyak orang yang terhipnotis dengan lagu itu,"jelas istri Riski Alfiansyah ini.
Lirik lagunya memang sangat menghanyutkan. Siapapun yang mendengar jadi merinding. Salah satu isi bait lagunya adalah 'Iki cerito, cerito nyoto, jerita wong cilik urip ono neng deso. Belani wedi, sing diduweni. Nganti kesikso sampek tekan pati'. Kutipan bait lagu itu dilantunkan dengan iringan musik yang cukup syahdu.
Sampai Ikut Menangis Saat Menyanyi
Hal itu memang diakui oleh Devi. Bahwa lagu duetnya bersama Alie Melon itu akan terus mengingatkan dengan insiden pecahnya tragedi Selok Awar-Awar yang mengugurkan Salim Kancil."Selalu mengingatkan tragedi itu, berisi doa juga. Dan mudah-mudahan tidak sampai terulang lagi,"tambahnya.
Respon pendengarpun kata dia cukup bagus. Apalagi di daerah Selok AWar-Awar tempat lahirnya Salim Kancil. Dari keluarganya apalagi. Sangat suka karena berisi doa yang tercantum dalam shalatwat pada lagu tersebut.
Devi menjelaskan setiap orang yang mendengar lalu mengikuti lagu tersebut sama halnya dengan turut mendoakan. Dan setiap menyanyikan lagu itu di depan banyak orang, Devy mengaku selalu terbawa emosi. Sampai hampir ikutan menangis dan berhenti bernyanyi. Tetapi dia selalu mampu menahan tangisnya lantaran terkenang perjuangan almarhum Salim Kancil.
Banyaknya orang yang menangis itulah yang bikin dia sendiri turut terbawa aura suasana."Sebenarnya mau ikutan nangis, tetapi dikuat-kuatin. Padahal saat latihan biasa saja, happy-happy aja. Tapi karena terbawa suasana jadi ikutan larut,"jelas perempuan yang kini sudah hamil tua ini.
Uniknya, dalam pembuatan lagu Salin Kancil itu, suaminya yakni Riski Alfiansyah juga terlibat dalam peran penting. Riski kata dia turut serta dalam pembuatan lagu. Mulai aransement music dan proses recording ditangani suaminya. Termasuk pembuatan vidio klipnya.
Ternyata, dalam urusan membawakan sebuah lagu, Devi bukan tergolong orang baru di Lumajang. Sejak SMP dia sudah menjadi vokalis grup band di sekolah. Saat SMA, sekitar tahun 2004, dia dan teman-temannya berhasil mendirikan grup band bernama Geranium.
Samapai saat ini, grup band tersebut terus mengakar. Bahkan menjadi salah satu band berpengaruh di Lumajang. Dengan personil Devi sendiri sebagai vokalis dan gitaris adalah suaminya yakni Riski Alfiansyah.
Di tengah persaingan grup band, dengan aliran dan genre yang beragam, ternyata grup band Devi mampu menunjukan jari dirinya. Dia mengembangkan aliran musik reggae yang banyak mengisahkan persahabatan dan kehidupan. Bukan pecintaan."Kalau banyak mengisahkan percintaan di Lumajang kurang peminatnya,"jelasnya.
Dengan semangat dan perjuangan bersama teman-temannya, reggae sudah mulai berkembang di Lumajang."Sekarang ini sudah menemukan jati diri. Selalu banyak yang greget ketika mendengar musik reggae. Sampai pingin joget dan ikutan nyanyi,"jelasnya.
Karena itu, dia mulai menyadari bahwa urusan musik tidak bisa dipaksakan. Harus memperhatikan juga keinginan pendengar ataupun penonton. Intinya kesukaan orang."Supaya karya kita dan seni yang kita miliki bisa dinikmati banyak orang,"pungkasnya.(fis/ras)
Sumber: Jawa Pos Radar Semeru,29 Juli 2016Disalin kembali oleh: JSR

Tidak ada komentar:
Posting Komentar