BULAN puasa sering kali memberikan nuansa yang berbeda pada setiap diri manusia. Khususnya berkaitan dengan dunia spiritual masing-masing orang. Seperti yang dialami SKP
Sugianto ini. Dia menemukan ketenangan hati lewat sebuah lagu Jawa, Sluku-Sluku Bathok.
AKP Sugianto adalah Kapolsek Tekung yang pas satu tahun ini bertugas disana. Sebelumnya dirinya menjabat sebagai Kabag Humas Polres Lumajang. Dan sudah menjadi anggota kepolisian sejak tahun 1987.
Sebagai seorang Kapolsek banyak hal yang menjadi tanggung jawabnya. Terutama adalah keamanan dan keterbitan masyarakat di Kecamatan Tekung.
Momen untuk Istirahatkan Pikiran
Dari tanggung jawab itu dia memanfaatkan momen bulan puasa untuk terus mendekat kepada masyarakat.Salah satunya, Sugianto mendapatkan kesempatan menjadi khotib di masjid kecamatan pada momen Jumatan. Dia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk memberikan perngertian tentang
agama dan berhubungan sosial masyarakat.
Saat mencari materi khutbah, Sugianto mendengarkan sebuah lagu Jawa Karangan Sunan Kalijaga. Judulnya adalah Sluku-Sluku Bathok. Lagu tersebut menurutnya mempunyai makna
filosofi Jawa yang sangat dalam."Ini maknanya dalam sekali,"kata polisi kelahiran 24 Juni 1965 ini.
Sugianto sempat menyanyikan lagu tersebut. Sluku- Sluku batok. Batoke ela-elo. Sri Rama menyang solo (kutho). Oleh-olehe payung mutho. Mak jentit lolobah. Wong mati ora obah. Yen obah medeni bocah. Yen urip goleko duwit.
Dia sedikit menjelaskan tentang apa simbol bathok tersebut. Menurutnya dalam lagu tersebut bathok berarti adalah kepala. Dan sluku bermakna selonjor kaki. Sugianto menafsirkan dua kata tersebut untuk mengistirahatkan pikiran.
Kemudian di aline kedua ada kalimat bathoke ela-elo. Kalimat tersebut berarti berarti setelah mengistirahatkan pikiran, harus mengingat kepada tuhan dengan cara berzikir. Kalimat-kalimat berikutnya pun terus menerus berbicara tentang bagaimana caranya agar bisa mendapatkan ketenangan. Dengan solat, mengingat mati, dan akhirnya bisa bekerja dengan tenang, karena mendasarkan bekerja hanya karena Allah.
Lagu tersebut menurutnya juga isinya persis seperti surat Al Mukminun ayat 93 sampai dengan 100. Dimana berisi hakekat kehidupan manusia yang seharusnya bisa diamalkan oleh manusia."Memang orang dulu itu hebat. Tembangnya tidak hanya menghibur tapi juga sangat bermakna,"kata Sugianto.
Dirinya pun berpesan. Seperti halnya dalam tembang Sluku-Sluku Bathok tersebut, di momen Ramadan ini, menjadi momen untuk mengistirahatkan pikiran."Kalau hati tenang semua akan terasa menjadi mudah,"Pungkas Sugianto.(dt/ras)
Sumber:Jawa Pos Radar Semeru, 16 Juni 2016
disalin kembali olen: (JSR)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar