HIDUP di tengah keluarga pesantren tidak membuat Abdul Wadud Nafis berleha-leha. Justru dia merasa tanggung jawabnya berat. Karena harus selalu membawa misi keummatan dalam menegakkan syiar islam. Baru-baru ini, dia mulai mengembangkan generasi alquran dari penglamnnya studi ke luar negeri.
Sosok yang akrab disapa Gus Wadud ini memang sangat akrab dengan dunia pendidikan. Bagi dia, hidup adalah belajar. "Kemanapun jika memang sudah harus menuntut ilmu harus dilaksanakan," ungkap lelaki kelahiran Madura ini.
Mulai Kembangkan Bahasa dan Matematika
Tak heran, meskipun usianya sudah separuh baya, ketika mendapat study ke timur tengah dia sempatkan. Hal itu membuat dirinya banyak kenalan. Banyak jaringan. Dan juga banyak ilmu yang didapat. Termasuk banyak mendapat informasi peluang dari aktivitasnya itu.Dari sekian pengalaman yang didapat, baik didalam maupun di luar negeri, Gus Wadud merasa ada yang bisa dioptimalkan di Lumajang. Terutama dalam generasi alquran. "Hampir tidak ada pendidikan yang fokus mendalami dan mengembangkan alquran.Karena itu, sejak tahun ini kami mencoba merintisnya," ungkapnya.
Peluangnya tersebut didapat dari serangkaian studi dan kunjungannya ke luar daerah dan ke luar negeri. Dia merasakan ada banyak peluang belajar gratis, kuliah gratis kuliah dan pekerjaan besar dengan gaji tinggi dengan hanya berbekal alquran.
Dia mencontohkan untuk kuliah. Di Surabaya, Jakarta sampai di luar negeri banyak tempat kuliah gratis. Bahkan ada yang membiayai penuh. Catatannya ya harus hafal alquran. "Dengan mendalami alquran, semua jalan itu pasti akan terbuka," ungkapnya.
Karena itulah, dia mencoba merintis hal tersebut di Lumajang. Salah satunya mendirikan pondok pesantren yang berbasis alquran. Segala aktifitas dalam pondok akan diperbanyak dengan kegiatan yang bersentuhan dengan kitab suci tersebut.
Mulanya, dia merasa sulit untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Tetapi, setelah dicoba dan mencari orang yang bersedia berjuang bersama-sama, akhirnya bisa dimulai. Dengan tanah waqaf setengah hektare yang ada di Dusun Biting Desa Kutorenon, dia mulai merintis cita-cita besarnya itu.
Metode yang diterapkan dalam pesantren adalah memberikan pengajaran hafalan alquran. Hafalan ini dilakukan dengan dua cara. Ada yang melibatkan orang tua, ada pula yang dipasrahkan pada pengasuh. Santrinya dari warga setempat yang dulu masih awam pemahaman keagamaannya.
Dari bebrapa bulan memulai metode tersebut, tidak sedikit santri-santrinya yang bisa. Bahkan, ada diantaranya yang masih berumur dibawah 10 tahun bisa cepat menghafal. "Ada yang sehari semalam bisa hafal sampai dua halaman," ucapnya.
Namun, potensi itu tidak diobral. cara yang digunakan juga lebih hati-hati. Tidak sekedar memaksa agar santrinya hafal. Melainkan lebih menekankan pada aspek kemampuan daya serap dan daya ingat.
Dengan potensi santri yang lumayan baik ini, maka tahun ajaran depan di pesantren yang dia merintis juga itu akan didirikan SMP, SMA dan MTs model. Semua materi pelajarannya akan dikentalkan dengan bahasan dan kajian alquran.
Penekanannya pada matematika, bahasa dan alquran. Mengapa itu yang dipilih? Karena sejauh pengamatannya di berbagai daerah dan berbagai negara, kendalanay ada pada bahasa dan perhitungan. "Banyak anak pintar tapi lemah pada bahasa. Terutama bahasa. Terutama bahasa asing. Karenanya bahasa akan kami dalami juga," ungkapnya. (fid/ras)
Sumber : Jawa Pos - Radar Semeru, 2 Juli 2016
Ditulis kembali oleh : nbl

Tidak ada komentar:
Posting Komentar