Senin, 27 Februari 2017

Trauma Menunda Pekerjaan

TERKADANG seringkali orang menunda-nunda pekerjaan.apalagi jika hal tersebut menyangkut hal sepele.Bagi Achmad Solikin tidak,dia tergolong lelaki yang trauma dengan menunda itu.Sebab,pernah mengalami hal buruk karena menunda pekerjaan itu sampai orangnya meninggal dunia.

Lelaki kelahiran 9 April 1972 ini mengaku selama hidupnya pernah merasakan dampak yang sangat memilukan.Dia hanya menjadi pengawas pengolaan dana alokasi masyarakat itu menunda pekerjaan untuk mengunjungi rumah anggotanya yang sudah lanjut usia.

Bahkan,dia juga pernah mengatakan akan bersilaturahmi kesana mengajak anak istrinya.Yang lebih membuat dia merasa bersalah adalah keinginannya bersama rekan-rekannya untuk menggantikan posisi anggotanya yang sudah lanjut usia itu."Maklum,karena sudah berusia lanjut,tenaganya juga sudah tidak kuat lagi.Kasihan kalau mau disuruh kerja keras seprti yang muda-muda,"katanya.

Diapun kemudian merancang bersama teman-temannya untuk mengganti posisi anggotanya itu.Dengan cara yang lebih santun dan demi kebaikan salah seorang anggotanya itu.Hal tersebut dilakukan juga lantaran anggota tersebut berniat ingin mundur.Alasannya cukup logis.Karena sudah tak kuat lagi tenaganya untuk bekerja mengimbangi anak-anak muda seperti dirinya.

Namun,niatan tersebut tak kunjung direalisasikan.Untuk silaturahmi bersama teman sekantor saja tak terwujud.Juga silaturahmi dengan anak istri yang direncanakan ternyata masih terkendala.apalagi niat untuk merealisasikan keinginan anggotanya itu agar diganti orang lain.

Ternyata,takdir berkendak lain.Suatu ketika di awal bulan ramadhan kemarin,anggota yang bernama Suradi itu meninggal dunia.Penyebabnya karena sakit jantung.Spontan dia langsung terkejut.Tak cuma itu,dia juga merasa bersalah."tak terasa saya sampai menangis.Karena belum mengabulkan keinginan beliau.Sampai akhirnya beliau meninggal,"ungkapnya.

Lelaki kelahiran desa Dawuhan Wetan Kecamatan Rowokangkung inipun merasa terpukul.Dia juga menerima jika dianggap sebagai pemimpinan yang lalai dalam mengurus anggotanya.

Berangkat dari pengalaman tersebut,Alumni STAIFAS,Kencong-Jember ini banyak mengambil hikmahnya."Saya tidak mau menunda-nunda lagi pekerjaan.Rauma,ingat dengan kejadian yang awal Ramadhan lalu saya alami,"jelasnya.

Setiap ada pekerjaan yang saat ini menunggu.Dia tak mau ambil resiko menunda-nunda.Dia lebih memilih mensegerakan meskipun hasilnya tidak seratus persen tuntas.Hal itu bagi dia lebih baik dari pada tidak berbuat sama sekali.Dan lagi,Khawatir terjadi sesuatu dikemudian hari pada orang yang sempat dijanjikan atau pada tugas yang dibebankan padanya.(fid/ras)

Sumber:Jawa Pos Radar Semeru 29 Juni 2016

Ditulis Kembali:AF

Tidak ada komentar:

Posting Komentar