SEMASA kecil ingin menjadi orang yang mahir berbahasa Inggris. Bahkan, kurang berminat pada bahasa Arab. Namu, dengan berkah yang didapatkan, Imron Rosyadi malah menjadi hafidz alquran. Bahkan hafidz itulah yang menuntun dia berkeliling Asia.
Dipercaya Istana Negara Brunei Darussalam
Ya, kelahiran 3 Juli 1973 ini mengaku sejak kecil tidak bisa baca alquran. Apalagi bercita-cita menjadi hafidz. Anti sekali. Apalagi sampai dipercayai Sultan Brunai Darussalam untuk menjadi Imam di istana putri sultan Brunei. Namun, faktanya dia sudah 14 tahun menjadi Imam di sana.Lelaki asal Jalan Cempaka nomor 6 yang masjid Dusun Bagusari Jogotrunan Lumajang ini menguraikan, dulu ingin menjadi orang ahli bahasa Inggris. "Di paksa paman saya," katanya. Sebenarnya dari MI Nurul Huda
Dusun Bagusari Kelurahan Jogotrunan dia ingin sekolah ke Pondok Darussalam Gontor. Seperti pamannya dan tetangganya. Tapi saat itu keluarga tidak membolehkan. Alasannya, karena laki-laki semua diminta di SMP. Hal itu membuat Imron tak bisa membaca Alquran. Karena setelah lulus MI melanjutkan ke SMP 1 Besuki Situbondo.
Setelah itu dia malah diarahkan untuk belajar bahasa Inggris."Karena paman saya ahli bahasa inggris dari Pondok Gontor," jelasnya. Lantaran ketinggiannya agar semua keponakan bisa bahasa inggris dan bisa keluar negri.
Imron juga mengaku suka bahasa inggris. Bahasa Arab malah tak disukai. Sesama SMA juga semakin kental. Saat di SMA 1 Muhammadiyah Lumajang tahun 1989 sampai 1992 dia mengaku belum bisa mengaji. "Dipaksa ngaji, tapi saya gak mau ngaji. Mengaji dan bahasa Arab bagi saya tidak ada hubungan dengan bahasa inggris. Juga tidak ada hubungan dengan matematika. Maka saya pasti meninggalkan kelas," ujarnya.
Akhirnya seorang guru bernama Ustad Tafrizi di SMA, memprogram anak-anak kelas 2 dan 3 itu wajib menghafalkan surat-surat pendek. Diantaranya adalah Ad Dhuha dan An Nas. "Tapi saya milih kabur. Karena memang tidak suka," jelasnya.
Namun, tiba pula saat apes. Saat jam Alquran bergeser ke jam pertama. Dari biasanya ada di jam ketiga. Akhirnya dia tidak bisa meninggalkan kelas. Di situ dia merasa terjebak. Dan terpaksa harus belajar menghafal surat-surat pendek.
Surat yang di suruh dihafalkan adalah surat Al Qorih. "Saya gak bisa terus. Memang tidak hafal. Akhirnya saya dicubit pentil susu saya sampai lecet. Sampai luka, Dari situlah saya punya nadzar, bahkan nanti ketika saya sudah pinter ngaji dan hafal Al Qoriah, hidup dan mati akan saya datangi ustad Tarfizi itu. Supaya saya bisa balas dendam," jelasnya.
Ternyata tetap saja tidak hafal sampai lulus SMA. Baru kemudian, KH AbdiManaf sempat menemuinya pada 12 hari setelah menerima pengumuman lulus SMA. Dia disuruh untuk pergi ke pesantren. Ditanya ke pesantrenan mana, dia mengaku malah dilarang banyak tanya. "Pokoknya malam itu saya disuruh berangkat, bersama teman dari Lumajang dan Jember. Itu pada 1 Juli 1992 jam 12 malam disuruh ke Surabaya menuju pesantren ponpes Karangasem Paciran Lamongan," jelasnya.
Baru sejak 2 Juli 1992, Imron mulai duduk di pesantren. Saya terkejut, pemikiran saya disitu seperti Pondok Gontor mengembangkan bahasa Arab dan Inggris yang berguna untuk mengalahkan pamannya. Ternyata berbalik. Disitu malah disuruh menghafal Alquran.
Dengan hanya berbekal berbekal baju beberapa potong dan tas, karena program gratis, dia pun menjalani semua itu. "Saya terpaksa bisa menghafal. Selama tiga tahun sudah hafal 30 Juz. Dari tidak bisa ngaji, bisa ngaji, sampai menghafal itu dalam 3 tahun," jelasnya.
Metode belajar kata dia adalah Talaqi Musyafahah. Cara itu dipelajari terus sampai 30 juz selama 3 tahun. Akhirnya, dari awalnya dia kurang berniat dan bahkan tidak suka. Kini malah ketagihan. Bahkan, mendapat banyak berkah dari Alquran.
Diantara berkahnya itu adalah dia di tunjuk menjadi Imam istana putri Negara Brunai Darussalam. Karena hafidz itulah, dia sampai bertahan 14 tahun di negara tetangga itu.
Selain itu juga ditunjuk mengabdi tahun 1995-1999 di ponpes Karangasem Paciran Lamongan. Selama tujuh tahun dia mengabdi disana. Kemudian di angkat menjadi guru bahasa inggris SMA 6 Muhammadiyah Karangasem.
Juga diangkat menjadi dosen terbaik STDI Imam Syafi'i di Pakem Jember. Juga diangkat menjadi dosen terbang di STI Alquran Amuntai Kalimantan Selatan sampai sekarang. Meski begitu, urusan studi juga tak pernah berhenti. Imron sampai sekarang masih menempuh S1 di Lamongan si STTT Lamongan.(fid/ras)
Sumber: Jawa Pos Radar Semeru,08 Juni 2016
Disalin Kembali Oleh:(Yn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar