KETERBATASAN bukan jadi penghalang seseorang menjalankan kebaikan bahkan dengan keterbatasan, seseorang bisa mendapatkkan kekuatan lebih untuk membantun sesama. Seperti yang diklakukan oleh Ali Muslimah ini. Meski seorang difabel, dirinya tak henti-hentinya membantu sesama.
Sering Cekcok dengan Keluarga Difabel
Bahkan, Muslimah juga mendirikan lembaga usaha untuk membantu para difabel bisa mendapatkan penghasilan.Mulai akhir Muslimah dalm kondisi difabel. Tangan kanannya tidak sama panjangnya dengan tangan kirinya. Sehingga banyak kegiatan yang digunakan hanya dengan satu tangan.
Melihat kondisi tersebut muslimin tidak menyerah. Dirinya terus memotivasi dirinya untuk terus sekolah. Hingga akhirnya bisa sekolah hingga tingkat SMA," kata Muslimah.
Setelah SMA, Muslimah aktif di organisasi pemuda. Mulai dari organisasi kepemudaan dan organisasi olahraga. Semua khusus para penyedang cacat. Bahkan muslimah juga dikenal sebagai seorang atlet difabel dari Lumajang. "Saya dulu pelari," katanya.
Tidak hanya itu, keaktifannya tersebut ingin ditularkannya kepada para penyyandang cacat lainnya. Sehingga terus mengajak para penyandang cacat lainya. Sehingga terus mengajak para penyandang cacat lainnya untuk terus aktif."kalau bisa terus sekolah sampai setinggi-tingginya.." kata muslimin.
Namun dia mendapat banyak sekali tantangan dari keluarga orang-orang yang diajaknya. Persoalannya adalah waktu itu, Muslimah sendiri belum terbukti sukses. Apalagi belum ada penghasilan dari dirinya waktu. itu sampai saya bingung jawab apa," ujarnya.
Namun Muslimin tidak patah arang. Berkat kegigihannya akhirnya memberanikan diri untuk menikah. Setelah menikah dirinya bersama dengan istrinya membuat usaha, saat itu dia membuat jajanan dan makanan kering lainnya. "Sekitar 1998-1999 itu awalnya kata Muslimin.
Tidak mudah menjalankan usaha itu. Apalagi kondisinya yang sangat terbatas. Rugi dan untung sakling berganti. Namun, usaha itu tetap terus berjalan.
Sementara itu, MUslimin mulai membantu para difabel. Khususnya para difabel dari dari keluarga pra sejahter. Seperti pembuatan kaki palsu, operasi katar, hernia, bahkan sampai dengan tumor. Ditambah lagi dia aktif di organisasi persetujuan penyandang difabel indonesia (PPDI) Lumajang.
Muslimin mengakui, membantu itu tidak mudah. Apa lagi kondisi Muslimin sendiri membuat banayk orang yang akan dibantuinya ragu. Bahkan sering kali juga ditolak keras. "Banyak faktornya. SDM yang paling besar. Karena banyak difabel yang kami bantu dari keluarga kurang mampu." katanya.
Meski demikian dirinya tetap berskeras. Bahkan sudah menjadi hal biasa dirinya harus cekcok sendiri dengan keluarga difabel yang akan dibantunya. "Toh mereka akan berbalik sangat baik kalau ternyta usaha yang baik," katanya.
Dengan aktifitasnya berkgiatan sosial tersubut, Mislimin mendapatkan banya teman. Dari sanalah juga dia banyak mendapt bantuan untuk produk-produk olahannya. Apa lagio banyak yang bersimpati terhadapnya, karena dia juga memperkerjakan para difabel lain ditempatnya.
Muslimin mengaku merasa tenang jika bisa membantu sesamanya. Dia selalu menepatkan dirinya dalam posisi yang sma ketika melihat para difabel. Banyak keteerbatasan dan banyak keputusan asaan yang dilihat. Namun dia yakin tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk umatnya, meski pun dalam kondisi yang terbatas. "Yang penting saya membantu sesama," pungkasnya.(dt)
Sumber: Jawa Pos Radar Semeru, 7 Juni 2016
Disalin Kembali Oleh (Rs)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar