Tadinya alergi podok, kini malah jatuh hati. Itulah yang dialami Faiqotul Mala. Hingga, meski kini dia sudah kuliah, dia tetap tak bisa meninggalkan duni santri. Meski tak lagi mondok, dia mengaku, kecintaannya akan pesantren tetap berada di hatinya. Dengan begitu, meski kini sudah tidak tinggal di pesantern, setidaknya suasana pesanyren tetap dihidupkan di lingkungan sekitarnya.
Sekolah Sambil Mondok Dapat Duta Pelajaran
"Sebenarnya, dulu saya tidak mau mondok," akunya kepada Jawa Pos Radar Semeru. Keinginan dari orang tuannyalah yang menjadikannya harus menjadi santriawati di salah satu pesantren di Lumajang.Dia mengakui, dulu sama sekali tidak menyukai dunia pesantren. Baru setelah menemukan teman dan mampu bersosialisasai, dia merasa bahwa menjadi santri adalah hal yang mengasyikan.
Keasyikan menjadi seorang santri tetap di bawa ketika akan masuk di Madrasah Aliyah. Mala mempunyai keinginannya sendiri untuk menjadi seorang santri. "Orang tua kaget, karena ketika dialiyah, saya minta di pondok saja," tuturnya.
Dari situlah, dia mulai mendalami ilmu agama. Selain santri, Mala juga meneruskan sekolah Aliyah dengan mengambil jurusan agama. Sehingga komplit sudah keinginannya untuk lebih memperdalam ilmu agama tersebut.
Memilih untuk mendalami ilmu agama, diakuinya merupakan keinginan pribadi. Sehingga tidak heran jika sampai kuliah, Mala tetap memilih kampus bernuansa agama untuk pendidikannya.
Rindu dengan suasana pesantren merupakan hal yang sering dirasakan oleh Mala. Kebersamaan bersama teman pondok, merupakan hal yang sudah tidak bisa diulangi kembali.
Oleh karena itu, rumah kontrakan yang biasa ditempati dirinya dan teman-temannya, disulap menjadi tempat aktivitas keagamaannya.
"Saya ingin, tempat tinggal, ini bisa seperti pesantren. Kebersamaan dan aktivitas sebisa mungkin bisa mirip dengan pesantren," terangnya. Sehingga teman-temannya yang tidak pernah merasakan pesantren akan tahu, bagaimana asyiknya menjadi seorang santri.
Selain suasana yang di buat semirip mungkin dengan pesantren, dia menambahkan, juga memberikan sebuah kegiatan kecil kecilan untuk temannya. Seperti salat berjamaah atau ngaji bareng.
Nyantri sambil sekolah memang bukan merupakan hal yang baru, dia mengakui memang ada beberapa pembagian menjadi seorang santri maupun menjadi seorang pelajar. Kedua hal tersebut akan didapatkan jika menjadi santri sekaligus pelajar.
"Jadi tidak membuang waktu, sekolah sambil mondok akan mendapat dua pelajaran sekaligus. Sehingga tidak membuang buang waktu lagi," jelas anak pertama dari pasangan Kadirtu Iswanto dan Maria Ulfa tersebut. (mar/ras)
Sumber: Jawa Pos Radar Semeru 10 Juni
Disalin Kembali Oleh(Yn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar