Menjadi dosen yang menjabat sebagai pembantu ketua (PK) di kampus membuat aktivitasnya seabreg. Namun di sela-sela itu, jika dasarnya kretif tentu ada sejak waktu untuk berkreasi. Diantaranya menempuh S3. Berbekal tahajud, semua berjalan lancar.
Ya, Bendor Tri Utomo MSi adalah lelaki yang merasakan keajaiban tahajud. Lelaki yang kini menjadi ketua STKIP PGRI Lumajang itu pada 2006 mengalami fase kehidupan yang begitu padat dan menentukan.
Tak Minder Meski dari PT Swasta
Dimulai 2003 saat dia menjadi PK 2 di kampus STKIP PGRI Lumajang. Saat itu dia pertama kali diangkat dan langsung menjadi PK 2. Sejak itu dia merasakan padatnya jam mengajar dan mengurus kampus.Nah, disela-sela itu, keinginannya untuk melanjutkan kuliah S3 tak pernah dilupakan. Meski kesibukan padat, dia berusaha keras agar mampu merobos beasisiwa S3 di Universitas Negeri Malang. "Usaha terus saya lakukan, betul-betul saya usahakan," jelasnya.
Pertama yang harus dioptimalkan adalah bagaimanan menata waktu. Antra tugas sebgai dosen, PK2 dan urusan studinya di Malang. Hal tersebut baru berhasil dia mulai saat bersaing merebutkan tiket beasiswa di sana.
Dia harus bersaing dengan puluhan peserta yang semuanya berasal dari perguruan tinggi negeri, "Hanya saya yang yang dari swasta. Semuanya negeri semua. Tetapi saya tidak mau kalah, say berusaha terus semampu saya," katanya.
Mulai persaingan tes masuk, tes bahasa inggris dan tes lain nya dia ikuti dengan tidak ada satupun yang terlewta dengan kurang maksimal. Akhirnya, dari puluhan peserta yang mendaftar dan memperebutkan tiket kuliah dengan beasisiwa hanya dialah yang berhasil.
Meski dari peguruan tinggi swasta, dia mampu, Dia bisa membawa dirinya sebagai yang terbaik dan layak mendapatkan S3 dibiayai beasisiwa di malang. Karena berbagai macam cara dilakukan dengan menunjukkan semua kemampuan.
Saat itulah dia yang telah berhasil mendapat beasisiwa itu dimulailah aktivitas kuliahS3. Sejak 2006 dia memiliki kesibukan ganda. Buka cuma menjadi dosen dan PK2, tetapi juga harus menjadi mahasiswa di Malang.
Setiap hari dia harus pandai-pandai menata waktu. Pagi melaksanakan kuliah di Mlang, sore kembali ke kampus STKIP PGRI Lumjang, lalu malam kembali pulang kerumah. Besok paginya juga demikian. Diataur lagi menyesuaikan dengan jam kuliah S3 nya yang dilaksanakan tiga hari sekali.
Baru 2009 dia berhasil mendap[at titel doktor. Dia berhasil mendap[at tekonologi pendidikan. salah satu karyanya adalah penelitian bidang pendidikan matematika.
Nah, apa yang sebenarnya menajdi resep khusus mengantarkan Bendot berhasil menerobos persaingan ketat itu? Ternyta dia mengakui semua berkat doa. "Bedoa, banyak belajar, berdoa banyak belajar begitu terus," jelasnya.
Ditanya lagi doa apa yang digunakan sehingga karirnya begitu menanjak dalam sepeluh tahun terakhir ini karena dalam 2014 dia terpilih menjadi ketua STKIP PGRI Lumajang? Jawabanya sederhana. "Tahajud setiap malam, itu yang tidak bisa saya tinggalkan," ucapnya.
Dengan doa itu pula, bukan cuma pekerjaan dan karir yang lancar. Bahtera kelurganya juga merasakan begitu berjalan harmonis> Dewi Astuti istrinya yang mendam[pingi sebagi ibu rumah tangga selalu menjadi inpirasi dalam kelurarganya. Ditambah tiga anaknya yakni Andika Putranta Utama (lulus S2 Universitas Negeri Malang), Ardansyah Panji Utama (baru Masuk UM) dan Sallya Magistra Pangestuti (SMA di Jember) yang begitu lancar dalam menjalankan aktivitasnya menempuh pendidikan.(fid/ras)
Sumber: Jawa Pos Radar Semeru, 25 Juni 2016
Disalin Kembali Oleh.(Rs)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar